(MuslimTalk) – Diceritakan ada seorang guru yang tengah melakukan demontrasi dihadapan para muridnya dengan sebuah botol. Pertama tama guru ini memasukkan beberapa bola kasti, kemudian ia bertanya kepada muridnya, “apakah botol ini sudah penuh?” Serentak murid menjawab “penuh”, apakah ia bisa diisi lagi tanya sang guru, “tidak”, jawab murid.

Kemudian guru ini memasukkan segengam pasir, lalu pasir ini mengisi sela-sela bola yang ada dalam botol tersebut, kemudian pak guru bertanya kembali kepada para muridnya. Apakah botol ini sudah penuh dan tidak bisa di isi lagi? dengan yakin para murid menjawab, “tidak bisa diisi karena sudah penuh”.

Kemudian guru mengambil segelas air dan menuangkan ke botol, lalu air itu membasahi bola dan pasir yang ada di botol tersebut, para murid yang mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa botol tersebut tidak bisa diisi kembali, hanya terdiam dan bergumam dalam hati, “apa hikmah dari pertunjukan ini”.

Adapun menurut penulis hikmah dari cerita di atas adalah sebagai berikut;

Pertama, bola kasti adalah perumpamaan dari masalah masalah besar yang ada dalam kehidupan. Jika kita disibukkan oleh masalah masalah besar dalam kehidupan ini, maka kita adalah orang besar, dan masalah masalah kecil pun bisa ikut terpikirkan dan terselesaikan. Seperti masuknya pasir dan air di sela-sela bola itu.

Kedua, air dan pasir diibaratkan seperti masalah-masalah yang kecil, namun jika diri kita disibukkan dengan hal yang remeh dan temeh, maka kita hanya berkutat di masalah itu dan lupa akan hal-hal yang besar.

Ketiga, seorang ulama berkata “seseorang yang hidupnya hanya meributkan soal makan, maka nilai dia lebih rendah dari apa yang keluar dari duburnya. Buya Hamka berujar, “kalau hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan juga hidup”.

Keempat, jika dalam dakwah kita selalu meributkan hal-hal yang bersifat cabang atau furu’iyah, maka hal-hal yang ushul/ pokok seperti persatuan dan kesatuan maka akan terabaikan. Seperti orang yang meributkan salaman setelah shalat, maka yang terjadi adalah bertengkar setelah shalat karena meributkan yang tidak substansi dan tidak bijak dalam berdakwah.

Kelima, you are what you think, “anda adalah apa yang anda pikirkan”, jika ingin menjadi besar maka berfikirlah besar dan berkaryalah besar, namun jika anda selama ini dinilai kerdil karena anda berfikir tentang hal-hal yang kerdil dan meributkan hal-hal yang tidak prinsip. (Faisal Kunhi, SHI, MA) | @faisalkunhi

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.