Depok (MuslimTalk News) – Kata “Bully” masih menjadi permasalah di dunia pendidikan tanah air. Dalam sebuah riset yang dilakukan LSM Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW) yang dirilis tahun 2015 menunjukkan fakta sebanyak 84% anak Indonesia mengalami kekerasan di sekolah.

Permasalahan kekerasan berakar dari tindakan bullying. Sedangkan bullying sendiri hanya dapat dilihat dalam perspektif korban, karena tidak semua anak ketika diejek akan berdampak serius pada psikologisnya. Namun demikian, bullying tidak bias dianggap enteng karena bisa berdampak pada tumbuh kembang anak. Bahkan bisa memicu tindakan kekerasan kriminal.

“Bully itu jailin teman yang berlebihan, korban yang dibully suka trauma dan membalas.. Sebenarnya ngebully itu emang ngak boleh tapi kadang tanpa sadar kita suka ngebully, padahal sebenernya niatnya becanda,” kata Fikri salah seorang peserta Fam Walk saat diminta pendapatnya mengenai bullying.

Berangkat dari hal ini, sebuah Komunitas Gerakan Menuju Anak Baik Indonesia (GEMABI) memfokuskan kampanye ‘Stop Bullying’, Mari Bicara Baik” dalam acara Fam Walk 3.K Bersama 1000 Anak Yatim yang dimeriahkan oleh Harris J, Minggu (20/11).

img-20161120

Acara kolaborasi ini memadukan unsur kebugaran, edukasi, sosialisasi, diskusi serta games menarik untuk 1000 peserta, yaitu anak yatim dari beberapa panti asuhan se-Jabodetabek dan peserta umum lainnya. Saat ditemui MuslimTalk Radio, Asdo Alan selaku founder GEMABI mengaku bahwa acara kolaborasi ini sejalan dengan gerakan dalam program-program GEMABI, berkaitan dengan berkata baik. “Karena dengan berkata baik, hal demikian yang dapat menyelamatkan kita,” ungkap Asdo.

GEMABI adalah komunitas yang memfokuskan pendidikan karakter pada anak dan melakukan training motivation untuk anak-anak kurang mampu. Komunitas yang didirikan dua tahun silam ini, sudah memiki 10 cabang regional yang tersebar di seluruh Indonesia. Dan ratusan volunteer yang didominasi oleh mahasiswa. Mereka memiliki satu visi yang sama yakni mewujudkan profil-profil anak baik di Indonesia.

Selan itu beberapa program GEMABI juga mengkolaborasikan konsep Islam yang mudah dipahami oleh anak-anak, dalam hal ini konsep Qaulan Sadida dalam Al-Quran Surat An-Nisa ayat 9 yang diartikan dengan tindakan bertutur kata yang benar.

“Dalam hal ini kami menyederhanakannya kepada anak-anak bahwa berkata baik itu mudah, ngak susah kok berkata baik, dan itu merupakan salah satu bentuk tagline campaign kami anti bully ‘Yuk Berkata Yang Baik’, dan tentunya setiap tingkat pendidikan anak-anak harus disesuaikan karena tiap usia anak berbeda pemahamannya,” jelas Asdo.

Dia berharap agar setiap anak sadar bahwa jika berkata baik itu mudah, membuat lingkungan aman dan menyenangkan, maka tidak akan ada lagi bullying karena setiap anak sudah merasa berkata baik itu mudah. Dan membiasakan mengucap kata-kata baik, dan berkomitmen bahwa hari ini saya harus berkata baik.

Selain itu, GEMABI juga aktif melakukan berbagai macam gerakan, salah satu kegiatan yang belum lama ini adalah ‘Gerakan Sedekah Jilbab Anak Baik’ yang dilaksanakan di beberapa pelosok desa seperti Garut dan Yogyakarta. Gerakan ini melibatkan volunteer GEMABI di beberapa regional terkait, tujuannya sederhana yakni menginspirasi dalam hal kebaikan. (gemabi/mt-r)