KOTAMOBAGO – Alhamdulillah, tim qurban HASENE-IZI untuk Sulawesi Utara akhirnya sampai juga ke Kotamobago, Sulawesi Utara, Minggu 11 September 2016. Untuk sampai ke kota ini, tim harus berkendara dengan mobil hampir lima jam perjalanan.

Ini perjalanan panjang, setelah tiga jam duapuluh menit terbang dari Jakarta. Kami hanya transit sebentar di Kota Manado. Hanya singgah untuk shalat di Masjid dekat bandara lalu meneruskan perjalanan menuju Kotamobago.

Jangan bayangkan seperti di Jawa, jalan-jalan disini memang tak ramai, namun karena medannya naik turun melewati bukit-bukit dengan tikungan tajam, maka perjalanan pun menjadi tak mudah.

Setengah jam perjalanan awal terasa menyenangkan karena kami menyusuri pantai-pantai indah dengan ombak yang tenang. Pantai Malalayang yang kami lewati seakan melambaikan tangan menyambut kedatangan kami di Kota Manado.

“Minggu malam akhirnya kami sampai ke Kotamobago. Dengan tubuh yang lelah, setelah terguncang berjam-jam  melewati tikungan-tikungan tajam, hanya istirahat yang kami inginkan, tiada yang lain,” cerita Nana Sudiana.

Kotamobago yang kami datangi, ternyata merupakan kabupaten baru di Propinsi Sulawesi Utara, dan merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Bolaang Mongondow sebelumnya. Kota ini sendiri merupakan antitesa atas asumsi publik terhadap Sulawesi Utara.
Secara umum, orang lain memandang Sulawesi Utara ini daerah kaya. Dengan Manado sebagai ikon utamanya dan Bunaken sebagai surga bagi pariwisata di timur Indonesia. Adalah sangat tepat Tim Qurban HASENE dan IZI berkurban di daerah ini.

Kalau ditanya mengapa HASENE dan IZI dianggap tepat tahun ini berkurban di Sulawesi Utara, setidaknya ada tiga jawaban akan hal ini:

Pertama, masalah akidah. Faktanya umat Islam di Sulawesi Utara adalah minoritas. Data yang ada menunjukan umat Islam di Propinsi Sulawesi Utara berjumlah 701.699 jiwa atau secara persentase: 30,90%.

Kedua, support motivasi sebagai sesama saudara seiman. Sulawesi Utara selama ini diidentikan dengan Manado. Dan ‘celakanya’ lalu digambarkan secara sederhana dengan Bunaken. Ya, streotipe Sulawesi Utara dengan Manado justru tidak menguntungkan umat Islam di sini.
Yang terberitakan dari luar daerah ini adalah daerah pariwisata, daerah kaya dan tak ada masalah. Sejatinya di sini umat Islam minoritas. Tanah-tanah di sini yang dimiliki umat Islam dibeli mereka lalu dijadikan tempat ibadah atau pemukiman yang orangnya di datangkan dari luar.

Umat Islam disini tersisa hanya di beberapa daerah seperti di Kotamobago dan sisanya terdistribusi di beberapa daerah lain. Pekerjaan mereka adalah petani dan sebagian nelayan. Petani pun adalah petani penggarap yang hanya jadi buruh ditanah-tanah yang dulunya pernah jadi milik mereka. Kemudian karena kebutuhan ekonomi tanah-tanah ini mereka jual ke orang lain.

Ketiga, tak banyak pihak yang membantu saudara muslim di Sulawesi Utara. Karena persepsi yang keliru tadi, akhirnya daerah-daerah di sini dilupakan atau lebih tepatnya tak diketahui masalahnya.

Disinilah kini Tim Qurban HASENE-IZI berada. Di Kotamobago nan indah dengan hamparan sawah dan tanaman jagung mengelilingi kota ini. Kota yang sejuk nan hijau dan penduduknya yang ramah dan bersahabat. (ns/izi/mt-r)