Demonstrasi atau aksi rasa merupakan hak konstitusional setiap warga negara Indonesia. Demonstrasi yang dirancang pada Jum’at (4/11/2016) kemarin dengan melibatkan jutaan umat Islam di Indonesia, sesungguhnya adalah reaksi atas aksi yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang diduga melecehkan ayat al Qur’an.

Masa unjuk rasa bela al quran di jakarta (mt-r)

Masa unjuk rasa bela al quran di jakarta (mt-r)

Pangkal mulanya adalah pernyataan Ahok yang menggunakan kalimat ‘dibohongin pake surat Al Maidah 51.’ Secara substantif dan sadar, kalimat itu menempatkan ayat Al Qur’an sebagai ‘alat seseorang atau sejumlah orang membohongi orang lain atau kelompok orang lainnya.’

Menempatkan ayat al Qur’an sebagai ‘alat untuk membohongi’ adalah tindakan (yang dilakukan sadar atau tidak sadar) menista al Qur’an. Karenanya, wajar, bila umat Islam terluka. Karena bagi umat Islam, meyakini al Qur’an sebagai petunjuk jalan yang benar untuk mewujudkan Islam sebagai way of life,  adalah bagian tak terpisahkan dari keimanannya.

Kita, umat Islam, bereaksi atas dugaan penistaan itu, karena kita cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala, cinta kepada Rasulullah Muhammad SAW, dan cinta kepada Al Qur’an sebagai hukum dasar petunjuk jalan yang benar, sekaligus pemisah yang tegas (al Furqan) antara kaum yang taat dan kaum yang ingkar.

Beranjak dari pandangan ini, maka unjuk rasa yang umat Islam lakukan, semestinyalah merupakan ekspresi cinta yang dalam terhadap al Qur’an.

Jutaan massa di Jakarta, Pkl. 19.07 WIB (mt-r)

Jutaan massa di Jakarta, Pkl. 19.07 WIB (mt-r)

Ekspresi cinta yang harus mewujud tidak hanya dalam bentuk unjuk rasa, melainkan harus mewujud dalam perilaku tata kehidupan kita bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa sehari – hari. Ekspresi cinta yang di dalamnya mengalir sifat rahman (cinta) dan rahim (kasih sayang). Ekspresi cinta yang sekaligus memancarkan rahmat dan keberkahan bagi lingkungan semesta : insan, khayawan dan lainnya (flora dan fauna).

Siapapun kita yang bergerak melakukan unjuk rasa (4/11/2016) lalu, mengekspresikan perjuangan cinta dan kasih sayang. Karenanyam berjuang membela al Qur’an boleh disebut berjuang dengan cinta. Antara lain dengan menampakkan unjuk rasa sebagai ekspresi dakwah kepada siapa saja.

Kita sampaikan sikap tegas kita kepada mereka yang diduga menista al Qur’an :  “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang menyertainya bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”( QS al Fath 29).

Sikap tegas itu harus diwujudkan, karena orang-orang kafir peleceh al Qur’an, menanamkan kesombongan di dalam hati mereka, yaitu kesombongan jahiliyah (QS al Fath 29). Kesombongan orang atau kaum yang bebal dan jahat.

Ketegasan kita harus dilakukan dengan ketenangan, sebagaimana Allah berikan ketenangan itu kepada Rasulullah dan orang-orang mukmin. Orang-orang mukmin yang melaksanakan kewajiban Allah, taat menjalankan dan melaksanakan ayat al Qur’an sebagai kalimah taqwa. Kita berhak memperoleh nilai ketakwaan dan wajib melaksanakan seluruh ayat suci al Qur’an, termasuk melaksanakan Surat al Maidah 51, apapun tafsir dan terjemahannya.

Unjuk rasa 4 November 2016, saya bayangkan sebagai salah satu cara berekspresi untuk menampakkan Islam sebagai agama-Nya, sebagaimana telah diisyaratkan dalam Taurat dan Injil. Insha Allah, Allah Ridha dengan apa yang dilakukan seluruh pengunjuk rasa yang berjuang dengan cinta kepada-Nya. Berjuang untuk syi’ar secara luas.

Apa yang diperjuangkan, tak boleh berhenti hanya pada gelaran unjuk rasa belaka. Karena ada tugas berikutnya yang harus dilakukan, yaitu tugas dakwah, tugas syi’ar.

Udd’u ila sabili Rabbika bil hikmatih wal mau izzatul hasanah wa jadil hum billati hia ahsan (QS an Nahl 125). Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah (cara arif), nasehat yang baik,  dan berdiskusilah dengan mereka secara baik.

Bagi muslim (insha allah juga bagian dari orang mukmin -red) yang sedang menjalankan tugas sebagai penyelenggara negara, pesan Allah dalam surah Al Fath 29, tentu berlaku. Bersikap tegas (memberikan punishment) terhadap mereka yang ingkar. Terutama, terhadap siapa saja yang diduga – secara sadar atau tidak sadar – telah sengaja ‘menuding’ orang lain dengan menuduh mereka menggunakan surah al Maidah 41 sebagai alat membohongi umat. Apalagi dalam kedudukan sebagai pejabat negara.

Brikade Keamanan di depan Istana Negara. Kepolisian lantunkan dzikir dan lafazh asma 'ulhusna bersama para demonstran (mt-r)

Brikade Keamanan di depan Istana Negara. Anggota Kepolisian lantunkan dzikir dan lafazh asma ‘ulhusna bersama para demonstran (mt-r)

Dalam bahasa cinta, kita mengajak para penegak hukum, menegakkan prinsip punishment – penegakan hukum dan keadilan, karena sudah tersedia undang-undang terkait dengan aksi penistaan dan pelecehan terhadap agama. Unjuk rasa umat Islam, ini sesungguhnya tak akan pernah ada, bila penegak hukum, konsisten dan konsekuen melaksanakan tugasnya menerapkan prinsip : tegas terhadap kaum yang inkar (melanggar hukum) sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku dan kita sepakati bersama.

Berjuang dengan cinta adalah mewakafkan diri kita seluruh ikhtiar menegakkan kebenaran al Qur’an sebagai kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan cara arif dan komunikasi yang baik. Tidak untuk menghancurkan tatanan sosial, termasuk penyelenggaraan pemerintahan dan negara. Konsisten pada kedamaian dan kerukunan insaniah.

Berjuang dengan cinta adalah menempatkan diri kita sebagai muslim yang terus berikhtiar menjadi mukmin dan muttaqin, yang wajib berkontribusi atas terwujudnya suatu negara – bangsa tempat kebaikan dan kebenaran tumbuh subur dan berada dalam ampunan Allah.

Berjuang dengan cinta tak berhenti hanya pada kesadaran untuk bereaksi terhadap setiap upaya dan usaha menista dan melecehkan al Qur’an. Sekaligus juga berjuang dengan keyakinan penuh menghilangkan kecenderungan menista dan mencerca yang  dilakukan oleh sekelompok orang di negeri ini melalui media sosial, yang terkesan dibiarkan oleh negara. Tentu, termasuk berjuang mengingatkan pemerintah dan penyelenggara negara lainnya untuk konsisten dan konsekuen berbuat adil dalam menindak media yang menyediakan dirinya sebagai sarana massa untuk menebar benih friksi dan konflik sosial.

Berjuang dengan cinta juga sikap kita berkontribusi dalam bentuk partisipasi aktif melakukan partisipasi kritis, korektif, dan konstruktif terhadap penyelenggaraan negara dan pemerintahan. Karena setiap kita mengemban amanah untuk menyampaikan keyakinan akan kebenaran dengan cara dan komunikasi yang baik. Selebihnya adalah mengingat dan memahami isyarat Allah dalam Surah al Insyirah : Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)? Dan Kami telah pula meringankan beban darimu, yang memberatkan ‘punggungmu.’ Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu – harkat – bagimu.  Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), teruslah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.

Kita terus bergerak dengan cara ‘bil hikmah wal mau izzatil hasanah’ untuk menyelesaikan kasus penistaan dan pelecehan al Qur’an ini hingga tuntas. Selanjutnya, banyak tugas dan tanggungjawab lain yang harus dikerjakan…

Ditulis oleh: N. Syamsuddin Ch. Haesy – Pendiri The Indonesia Imagineering Institute | APN | email : semhaesy@gmail.com