KOTAMOBAGO – Langit terlihat cerah saat tim qurban HASENE-IZI melangkah dari penginapan di Kotamobago. Sesuai rencana, pada hari Senin 12 September 2016 tim qurban HASENE-IZI melaksanakan shalat Idul Adha di Masjid Al Hikmah yang ada di Komplek Madrasah Ibtidaiyah Kotamobago. Di tempat ini jamaah shalat ied secara antusias menyambut kami.

Mereka berdiri menyalami bahkan sejak di shaf paling belakang jamaah pria. Ini luar biasa, kami diberikan ucapan selamat datang dan ternyata sudah disiapkan tempat duduk dibelakang tempat imam shalat. Luar biasa.

Bersama kami duduk mantan kepala kantor wilayah Kementrian Agama Sulawesi Utara, Kepala Kantor Kementrian Agama Kotamobagu, tokoh masyarakat, ustadz, para pemimpin pondok pesantren dan sejumlah tokoh Kotamobago lainnya. Benar-benar shalat ied yang luar biasa.

Seusai shalat, kami diajak ke rumah tokoh masyarakat yang letaknya tak jauh dari tempat shalat. Di sana banyak jamaah shalat ied telah menunggu kami untuk silaturrahmi dan berbincang dengan tim. Setelah berbincang sejenak dan disuguhi sarapan dari tuan rumah, kami bergegas pergi menuju 5 titik sasaran distribusi kurban yang kami rencanakan.

Berikut aktivitas kami di hari pertama di Kotamobago: lokasi titik pertama, kami disambut shalawatan yang disampaikan dengan merdu sama anak-anak siswa sekolah di sini. Mereka juga mengalungi karangan bunga berwarna-warni indah ke kami berdua. Bukan soal karangan bunga yang akan kami ceritakan, namun anak-anak yang menyambut kami ini sebagiannya adalah anak-anak dhuafa, bahkan juga yatim.

Di lokasi ini kami mendistribusikan 10 sapi yang bertempat di lingkungan sekolah madrasah tsanawiyah negeri Kotamobago. Distribusi kurban disini dibagikan untuk anak-anak dhuafa di sekolah. Jumlah anak-anak di sini ada 800 siswa. Perkelasnya memang sudah tidak ideal, berisi 47 orang perkelas. Idealnya maksimal harusnya 40 anak per kelas.

Titik kedua, distribusi dilakukan di Desa Mongondo, Kecamatan Mongondo, Kotamobago. Sapi yang didistribusikan di sini 5 ekor sapi. Sapi kurban didistribusikan untuk orang-orang kurang mampu disini, terutama yang berada di sekitar masjid Al Iqra yang ada di desa ini.

Titik ketiga, berlokasi di Desa Mopait, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow. Desa ini berada di dekat Sungai Ongkag. Alhamdulillah di lokasi ketiga ini masyarakat sudah menunggu dengan antusias. Mereka rata-rata petani penggarap dan termasuk miskin.
Di desa yang cukup luas dan dipenuhi dengan tanaman kelapa dan pohon pisang dimana-mana ternyata sebagian besarnya dimiliki hanya oleh 5 orang saja. Mereka seperti juragan bila di jawa. Pemilik tanah, kebun, ladang dan juga sawah. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai penggarap di tanah-tanah mereka.

Matahari terus meninggi, menyinari sawah, ladang, kebun dan pepohonan di sini. Saat yang sama, walau lelehan keringat terus membanjiri baju dan rompi seragam kami, semangat kami tak berkurang sedikitpun. Panas sekali memang rasanya, belum lagi debu berterbangan menerpa wajah dan seragam lapangan kami.
Bahkan kadang cipratan darah hewan kurban pun singgah memberi warna baju kami. Suhu udara ketika kami lihat di smartphone ternyata menunjukan angka 32 detajat celcius, makanya pantas cuaca teramat panas.

Walaupun begitu, alhamdulillah semangat tim tak surut sedikitpun, untuk terus berbagi daging qurban dan menyapa hingga ke rumah-rumah penerimanya. Sebagian kami yang mengantar langsung ke rumah-rumah penerima qurban, sisanya panitia lokal yang akan membantu mendistribusikannnya.

Semoga apa yang kami berikan ke mereka bermanfaat dan menjadi prasasasti di jiwa mereka bahwa masih ada yang peduli dan mau berbagi dengan mereka, bahkan walau terpisah jarak begitu jauh.

Semoga pula jiwa-jiwa pequrban juga diberikan kebaikan terus menerus agar hatinya jadi memiliki ketaatan dan keistiqomahan dalam mengesakan dan menjadikan Allah SWT sebagai Tuhan-Nya. Semoga… (ns/izi/mt-r)